Segores Cerita Buat Daynikita
Dibawah langit ibukota
Aku berjalan, mondar-mandir
Seperti setrika panas merapikan kain kusut
Entah apa yang dipikiranku, begitu kosong dan rapuh
Basah hujan pun tak menemani kegundahanku
Dibawah langit ibukota
Aku berjalan, mondar-mandir
Memperhatikan setiap manusia yang menghindari kesialan
Menghampiri mesin bertenaga kuda dengan sombongnya
Tak ada rasa takut, bangga mungkin karena kesombongannya
Dibawah langit ibukota
Aku melihat sosok terindah tertahan di dalam ruangan
Begitu manis seperti Nawang Wulan yang turun dari khayangan
Tapi sayangnya dia bukan peri yang turun dari langit
Dia hanyalah sosok terindah, makhluk tuhan yang sangat terindah
Dibawah langit ibukota
Aku duduk sendirian
tanpa kawan, tanpa lawan, dan tanpa makhluk tuhan yang rupawan
Aku ingin menjamah hatinya, memakannya kalau perlu
Agar tidak ada serigala-serigala jahanam mengincar dirinya
Tetapi apalah artinya aku, aku juga seperti serigala-serigala
Sama seperti yang kebanyakan
Sekarang, dibawah langit ibukota
Pukul tujuh belas dua puluh satu waktu indonesia tengah
Aku membencinya, aku membencinya
yah, aku benci kamu...
Aku...
Benci...
Kamu...
Hahahahahahahahaha...
Aku berjalan, mondar-mandir
Seperti setrika panas merapikan kain kusut
Entah apa yang dipikiranku, begitu kosong dan rapuh
Basah hujan pun tak menemani kegundahanku
Dibawah langit ibukota
Aku berjalan, mondar-mandir
Memperhatikan setiap manusia yang menghindari kesialan
Menghampiri mesin bertenaga kuda dengan sombongnya
Tak ada rasa takut, bangga mungkin karena kesombongannya
Dibawah langit ibukota
Aku melihat sosok terindah tertahan di dalam ruangan
Begitu manis seperti Nawang Wulan yang turun dari khayangan
Tapi sayangnya dia bukan peri yang turun dari langit
Dia hanyalah sosok terindah, makhluk tuhan yang sangat terindah
Dibawah langit ibukota
Aku duduk sendirian
tanpa kawan, tanpa lawan, dan tanpa makhluk tuhan yang rupawan
Aku ingin menjamah hatinya, memakannya kalau perlu
Agar tidak ada serigala-serigala jahanam mengincar dirinya
Tetapi apalah artinya aku, aku juga seperti serigala-serigala
Sama seperti yang kebanyakan
Sekarang, dibawah langit ibukota
Pukul tujuh belas dua puluh satu waktu indonesia tengah
Aku membencinya, aku membencinya
yah, aku benci kamu...
Aku...
Benci...
Kamu...
Hahahahahahahahaha...
Samarinda, 26 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar